ASSALAAMU 'ALAIKUM WR.WB.

Salam UKHUWAH ISLAMIYAH

Minggu, 01 Agustus 2010

Membangun Masyarakat Madani, oleh Gus Mastur

Taman Sholaya merupakan wadah kajama'ahan. Yakni, tempat berkumpulnya para ulama, kyai, ustad dan segenap kaum muslimin dan muslimat yang ada di Indonesia. Sebagai organisasi keagamaan, Taman Sholaya tidak berafiliasi pada partai politik manapun. Para anggota jama'ahnya merupakan campuran dari berbagai ormas, seperti; Muhammadiyah, NU, Persis, kaum Habaib serta golongan lainnya yang berpaham Ahli Sunnah wal Jama'ah.
Sesuai dengan konsep kejama'ahan, Taman Sholaya mengajak kepad umat Islam untuk terus membina kerukunan hidup dan senantiasa menyambung hubungan silaturahmi. Dengan konsep inilah Rosululloh meletakkan pilar-pilar persatuan dan kesatuan tersebut. Rosululloh mengantarkan masyarakatnya pada satu kehidupan yang baldatun, toyyibatun, wa robbun ghofur atau dalam bahasa Jawanya gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Artinya tidak kekurangan sandang, pangan, papan dan keamanan terjamin.
Ada lima hal yang ditekankan dalam pembinaan para anggota Taman Sholaya, pertama, REBUTAN RUKUN, menciptakan kerukunan hidup atau memperkokoh ikatan Ukhuwah Islamiyah, perikehidupan yang saling bahu membahu inilah yang mampu menciptakan peradaban. Sebaliknya, prinsip individualisme yang saling menindas sesama, justru akan menhancurkan tatanan kehidupan. Kedua, KESABARAN HATI, sabar adalah satu ketahanan, kekuatan, sekaligus benteng umat. Kesabaran dapat diartikan ; ulet, kerja keras, tahan uji, selalu berbenah, menerima kritik dan saran, tidak putus harapan, selalu berproses lebih maju dan senantiasa berdo'a memohon pertolongan Alloh swt. Kesabaran ini sangat penting untuk dimiliki karena mampu mengantarkan bangsa pada kehidupan yang lebih maju dan beradab. Ketiga, DERMAWAN atau suka bersedekah/loman. Kehidupan berbangsa dan bernegara akan makmur, bila anggota masyarakatnya membudayanan sigat suka bersedekah dalam berbagai bentuk aplikasinya. Yang kaya menyantuni yang lemah. Yang modalnya kuat menyokong yang modalnya pas-pasan. Yang pintar mengajari yang masih belum mengerti. Yang sehat menghibur dan mendo'akan yang sakit. Yang normal menolong yang cacat. Saling berebut memelihara anak-anak yatim. Saling berebut memakmurkan masjid. Pendek kata, saling berebut meringankan beban sesama. Sebaliknya sifat bakhil merupakan penyakit hati. Penyakit tersebut dapat merusak kebaikan bahkan akan merusak tatanan kehidupan berbangsa serta bernegara. Keempat, REBUTAN NGALAHSaling mengalah atau lebih mendahulukan kepentingan saudaranya. Sifat yang tidak egois sangat dibutuhkan dalam memperlancar prooses pembangunan suatu bangsa. Masing-masing pihak sangat toleransi dan memahami kepentingan sesamanya. Tidak segan mengorbankan kepentingan pribadi demi kemaslahatan umat. Sebaliknya sifat enggan mengalah mengakibatkan permusuhan antar sesamanya, hal ini akan menylitkan diri sendiri serta mengakibatkan perpecahan di kalangan masyarakat. Kelima, SALING MENGHARGAI  atau memanusiakan orang lain (Jw. nguwongno wong) Artinya, suatu sifat yang tidak suka mencela, mencaci maki, menghina atau membuka aib dan kekurangan orang, kaum, golongan, organisasi yang lain. Tetapi membudayakan baik sangka kepada pihak lain. Sehingga, tidak disibukkan mengurusi perbedaan, sebaliknya, sifat tidak menghargai sesamanya, berakibat pada pribadi sombong, merasa dirinya yang paling baik, seta lebih unggul dari lainnya.
                                                                                                   Fajar Shodiq, April 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar